Suara Sekar Ranti

EDUCATION WILL BE BETTER SOON

Apakah kita sudah MERDEKA dalam BELAJAR?

PENDIDIKAN, merupakan sebuah kata yang sudah tak asing lagi di telinga kita, khususnya di kalangan para pelajar. Menurut saya, pendidikan adalah suatu upaya untuk melakukan perbaikan terhadap pola pikir dan tingkah laku manusia sehingga dapat mengoptimalkan dirinya menjadi manusia yang seutuhnya.

Belajar merupakan kewajiban bagi setiap manusia. Di dunia yang sudah berkembang dan memiliki kemajuan teknologi ini, manusia dianjurkan memiliki tingkat intelektual yang tinggi. Namun, Indonesia sebagai negara berkembang belum bisa mendidik rakyatnya dengan baik. Termasuk dalam sistem pendidikannya, selalu ada hambatan dalam proses belajar. Dimana sistem pendidikan di Indonesia terlalu menekankan pada teori dan hafalan. Sehingga mematikan kemampuan, minat, bakat, dan kreativitas yang dimiliki oleh siswa.

Nilai selalu menjadi prioritas dan tolak ukur kecerdasan siswa. Padahal Indonesia adalah bangsa yang HETEROGEN, pastinya tiap individu memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing yang membuatnya sangat unik, termasuk pada bidang akademik dan nonakademik. Tetapi sayang, pendidikan di Indonesia belum menerapkan semua itu. Jadi, apakah kita sudah merdeka dalam belajar? tentu saja belum sama sekali.

Terlebih lagi setelah adanya sistem zonasi pada tahun 2019 lalu saat saya mendaftar SMA. Kebanyakan teman-teman di kelas saya sangat susah untuk diajak berdiskusi, hal ini membuat saya sangat stress. Sampai pernah pada suatu hari di dalam kelas, saya menangis karena tak ada satu pun teman yang dapat saya jadikan partner untuk belajar. Teman-teman sekelas saya juga tidak ada yang tahu kalau saya menangis. Pernah terbesit dalam hati saya untuk pindah sekolah, tetapi kelihatannya itu adalah hal yang sia-sia.

Pada saat ishoma, saya merasakan sakit kepala yang amat sangat luar biasa. Saya langsung menelepon ibu dan menceritakan semua yang saya alami pada hari itu. Tanpa pikir panjang, ibu langsung menjemput saya di sekolah. Beruntunglah ada teman saya yang berbaik hati untuk mengantarkan saya ke UKS. Beberapa menit kemudian, ibu saya datang dan langsung membawa saya pulang.

Setelah beberapa jam saya beristirahat, ibu saya menasihati dengan penuh kesabaran bahwa saya harus kuat dan ikhlas untuk menerima kondisi belajar yang seperti ini. Yang terpenting saya selalu rajin belajar dan mencari teman yang baik serta menjauhi pergaulan yang tidak sehat. Dengan begitu, saya bisa menebarkan energi positif terhadap sesama dan alhamdulillah sekarang saya sudah menemukan partner belajar 🙂

Mungkin sampai sekarang saya saya masih tidak terima dengan sistem zonasi. Tetapi apa daya, semuanya telah terjadi. Pasti Tuhan merencanakan ini semua dengan maksud dan tujuan terbaik-Nya. Maka dari itu, saya harus bisa berhusnuzon dan menerima dengan ridho atas tiap takdir dari-Nya. Terima kasih ZONASI, karenamu aku jadi lebih tau ARTI MENGHARGAI. Tetapi saya tetap berharap sistem PPDB lebih baik lagi kedepannya agar tidak menguntungkan pihak satu dan merugikan pihak lainnya. PEMERINTAH HARUS LEBIH TEGAS terhadap berbagai kecurangan dan HARUS LEBIH BISA mengupayakan segala cara agar tercipta keadilan bagi sesama.

Selain itu, saya tidak setuju dengan Full Day School. Pada faktanya, seharian di sekolah dapat membuat siswa menjadi jenuh karena terlalu lama berada di sekolah sehingga hanya mempunyai sedikit waktu untuk bermain dan berkumpul dengan keluarga. Selain itu, siswa tidak dapat mengembangkan bakat dan kreativitasnya dengan maksimal. Walaupun ada kegiatan ekstrakurikuler, tetapi sebagian besar waktunya dihabiskan untuk mempelajari materi akademik di sekolah.

Problematika pendidikan di Indonesia itu banyakk bangett. Menurut survei, Indonesia tertinggal 128 tahun dalam dunia pendidikan. Untuk mengejar ketertinggalannya, sebaiknya sekolah tidak hanya menargetkan materi dan nilai sebagai patokan, tetapi moralitas dan skill juga perlu dijadikan acuan. Sebab di dunia kerja nanti, yang dibutuhkan adalah skill, bukan hanya sekedar nilai !!!

“Kegagalan akademis siswa bukanlah akibat tidak adanya atau kurangnya upaya oleh sekolah, melainkan justru akibat ulah sekolah.” ( John Holt )

Begitu banyak problematika pendidikan di negara kita tercinta, diantaranya sebagai berikut:

  • Infrastruktur Kurang Memadai.
    Anak-anak di daerah terpencil harus berjalan berkilo-kilo meter (bahkan ada yang menyeberangi sungai) untuk bisa ke sekolah.
  • Lebih menekankan pada hafalan, bukan pemahaman.
  • Hanya Melihat Hasil Akhir dan Tidak Menghargai Proses.
    Terlalu menekankan pada hasil ujian, sehingga seorang siswa yang tidak bisa mapel tertentu dianggap bodoh.
  • Mematikan kreativitas siswa untuk dapat berkembang sesuai passion yang mereka minati.
  • Jika seorang murid melakukan kesalahan, jangan dimarahi (apalagi dibentak). Sebab itu hanya memberikan rasa sakit dan tidak merubah apapun, malah merusak mental. Lakukan pendekatan supaya murid mau melakukan yang diinginkan tanpa ada rasa paksaan sedikitpun.

Problematika pendidikan di Indonesia ibarat seperti mengurai benang kusut, alias ribet banget! Tetapi jika kita (para generasi muda khususnya) juga ikut andil, pasti masalah pendidikan di Indonesia perlahan akan membaik. BERSAMA KITA PASTI BISA !!!

Sistem penilaian di Indonesia berdasarkan opini saya :

A = Amazing
B = Brilliant
C = Cool     
D = Dabest
E = Excellent

Sistem pendidikan di Indonesia harus DIROMBAK TOTAL. Dari yang sistem hafalan berubah menjadi pemahaman. Salah satunya dengan menerapkan soal-soal HOTS ( Higher Order Thinking Skill ) atau Kemampuan Berpikir Tinggi. Mengapa tipe soal seperti itu sangat dibutuhkan? Karena soal-soal HOTS mengaitkan materi pelajaran dengan pengimplementasiannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga sangat menariik dan dapat menggugah serta menumbuhkembangkan nalar siswa dalam berpikir kritis. Dengan begitu, siswa akan mampu menyikapi hal-hal yang terkait dengan lingkungan sekitarnya serta tergugah hatinya untuk memiliki pola pikir bahwa PENDIDIKAN BUKAN HANYA SEBATAS NILAI, TETAPI ILMU YANG DI DAPATKAN JAUH LEBIH PENTING.

Hal ini sangat dibutuhkan Pendidikan Indonesia untuk mencapai SDM yang unggul sehingga dapat berguna untuk masa depan dan kemajuan Bangsa Indonesia, terutama para generasi muda penerus bangsa yang memiliki pengaruh sangat besar untuk peradaban bangsa.

Siswa harus diajarkan untuk mempelajari apa saja yang ia inginkan. Bukan hanya menghafal teori dan rumus pelajaran yang menjadi beban saja, melainkan memahami indahnya ilmu pengetahuan dan penerapannya untuk menyelesaikan masalah di masyarakat demi kemajuan bangsa, negara, serta agama. Maka dari itu, Indonesia harus melakukan revolusi secara besar-besaran terhadap cara belajar dan berpikir siswa untuk menjadi pribadi pembelajar terbaik sepanjang hidup dan bahkan sampai akhir hayatnya.

#EducationWillBeBetterSoon #MajulahPendidikanIndonesia #BersamaKitaPastiBisa #IndonesiaEmas2045 #MerdekaBelajar      

Indonesia, 5 Juli 2020
Sekar Ranti Prameswari
Pelajar SMAN 4 Surabaya

#SuaraPelajar
Menuju Pendidikan Berkeadilan dan Demokratis
Dari Siswa, Oleh Siswa, Untuk Siswa

Ingin menulis #SuaraPelajar dan kami publish di website dan medsos kami?
Klik tombol di bawah ini untuk baca panduan menulis 🙂