Part 2 : SUPERDILEMA – Antara UNAIR atau UNESA

Perjalanan Supersquad Academy dalam membangun tim berawal dari diskusi kecil-kecil tentang pendidikan yang saya lakukan bersama mahasiswa Manajemen Pendidikan Unesa, hingga bertemu dengan Mas Dhanang, presma UNESA 2018, yang menjadi partner saya untuk membuat Supersquad Academy menjadi lebih matang.

Seiring berjalannya waktu, kami mendapatkan info tentang adanya lomba Akselerasi Startup Mahasiswa se-Indonesia yang diselenggarakan oleh Kemenristekdikti. Melihat Startup Supersquad Academy yang masih “bayi”, membuat kami sedikit berpikir untuk bersaing dalam perlombaan tersebut. Namun sebuah celetukan muncul dari mulut Mas Dhanang,

“Semua Startup juga pernah bayi, semua pasti berproses”.

Celetukan itu membuat kami menjadi optimis dan memberanikan diri untuk mengikuti lomba. Namun celetukan kedua lebih membuat kami bergerak untuk mendaftar,

“Toh ya gratis”.

Kami mendapat info perlombaan tersebut mendekati akhir pendaftaran, yang berarti waktu kami untuk mendaftar tidak banyak. Pada H-5 akhir pendaftaran, saya memasuki ruangan kemahasiswaan UNAIR untuk mendaftarkan Supersquad Academy. Namun ternyata bapak yang berwewenang tidak sedang ada di tempat karena sedang sibuk mengurusi PKKMB Amerta UNAIR. Lalu, saya keluar ruangan.

Di luar ruangan, saya berpikir sejenak..

Waktu tersisa sedikit, kampus masih disibukkan dengan PKKMB. Mengurus dokumen lomba bisa memakan beberapa hari. UNESA belum melaksanakan PKKMB, jadi bisa lebih cepat mengurus lomba.
Tapi yang membuat Supersquad Academy ini aku, aku mahasiswa UNAIR, aku pengen bawa nama UNAIR untuk bersaing dengan kampus lainnya. Aku pengen punya CV yang bagus, aku belum punya banyak prestasi untuk almamater, aku pengen mengharumkan nama UNAIR dengan memenangkan lomba yang bergengsi ini.
Aku juga suntuk di Surabaya terus, pengen ke luar kota, luar pulau, utk ikut pelatihannya.
Tapi.. agak lucu juga kalo mahasiswa Ilmu Politik membawa platform pendidikan. Ntar jurinya mikir, “Mau mempolitisasi Pendidikan?”.

Hm, platform pendidikan lebih cocok dibawa sama kampus pendidikan, UNESA, ada Mas Dhanang dari jurusan Manajemen Pendidikan juga.
Tapi platform ini aku yang mendirikan.
Aku yang lebih tahu tentang platform ini, aku yang lebih punya perencanaan yang matang untuk membesarkan Supersquad Academy.

Aku.. Aku.. Aku..

Di tengah rasa dilema yang membingungkan, saya berpindah tempat, duduk di pinggir danau, menarik nafas dalam-dalam, dan berpikir..

Kenapa tadi yang dipikir hanya aku? Kenapa kok ga mikir Supersquad Academy? Kenapa ga mikir orang-orang yang mendukung sepenuh hati? Kenapa ga mikirin orang-orang yang akan tertolong dan merasakan manfaat dari Supersquad Academy?

Berjam-jam saya berpikir keras untuk mengambil keputusan, almamater mana yang akan dibawa Supersquad Academy:

UNAIR? atau UNESA?

Saya berusaha menenangkan diri. Masuk waktu sholat, saya sholat di Ulul Azmi, masjid kampus C UNAIR. Selepas sholat, saya berdo’a, berharap semoga keputusan yang saya ambil adalah keputusan yang terbaik, yang dapat memberikan kebaikan untuk Supersquad Academy dan banyak orang nantinya.

Malam harinya, saya bertemu Mas Dhanang dan memberitahunya,

“Besok daftarin Supersquad Academy di UNESA”.

Keputusan sudah bulat, Supersquad Academy dibawa oleh UNESA.

Pendaftaran ditutup, sambil menunggu pengumuman 100 Startup mahasiswa yang lolos, saya berharap semoga keputusan yang telah saya buat adalah tepat.

Seminggu berselang, saya melihat poster dari Ditjen Belmawa Kemenristekdikti, yang merevisi jadwal akhir pendaftaran diundur sepuluh hari. Mengetahui itu, reflek kami berkata

“halaaah, tiwas gupuh (terlanjur keburu)”.

Mas Dhanang sempat nyeletuk,

“ngerti gitu kemarin daftarin di Unair, Min”.

Saya membalasnya tertawa.
Tapi dalam hati, saya merasa keputusan yang telah saya ambil tidaklah buruk, karena waktu bukan menjadi pertimbangan, tapi ada hal-hal lain yang lebih berdampak jangka panjang untuk keberlangsungan Supersquad Academy dan dampak positif dari program revolusi cara belajar.

Tapi di tengah itu, sambil menunggu hari pengumuman, saya masih harap-harap cemas.

Apakah keputusan saya benar-benar tidak buruk?
Atau sebaliknya?
Terburuk?

… bersambung.